“Ini kurang banyak ki.
Untuk bingkisan loh ini!.” celoteh salah satu teman saya ketika kami membeli
barang-barang untuk bingkisan seminar proposal. Padahal saya telah menjejalkan
minuman dengan ukuran king size serta
beberapa biscuit kaleng, dan masih ditambah beberapa jajanan lainnya. Ini masih
belum nasi dan kue basah yang disajikan kepada para dosen ketika seminar. Itu
masih belum seberapa, beberapa waktu lalu, teman saya lainnya yang akan ujian
skripsi sibuk membungkus beberapa seprai baru yang pastinya cukup mahal,
apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti saya. Ketika ditanya, jawabannya pun
sama, “Untuk bingkisan skripsi!”
Saya cukup heran dengan
fenomena-fenomena di atas, mengapa untuk melakukan seminar proposal atau sidang
skripsi saja harus membawa bingkisan? Jika sekadar nasi dan air mineral sih
tidak masalah, karena dosen merupakan tamu pada acara kita, tapi bingkisan
dengan isi yang tergolong mahal? Menurut saya ini berlebihan. Yah,
Alhamdulillah sih, di prodi tempat saya belajar tidak ada budaya seperti ini.
Hal itu sudah dilarang keras oleh prodi saya.
Sebenarnya sejak kapan
sejarah yang mewajibkan bingkisan diberikan kepada dosen setiap seminar dan
ujian? Kenapa budaya ini terus berjalan di Universitas kita? Mungkin ini ada
kaitannya juga dengan istilah yang pernah saya dengar dari beberapa kakak
angkatan di FKIP ,”Yes bingkisan, yes nilai bagus” jadi dengan adanya
bingkisan, pasti nilai kita akan menjadi bagus. Inilah yang menimbulkan
ketakutan tersendiri bagi sebagian besar mahasiswa. Mereka takut tanpa
memberikan bingkisan kepada dosen, maka nilai seminar atau ujian mereka akan
menjadi jelek atau bahkan tidak lulus ujian dan harus mengulang kembali. Dengan
pemikiran mahasiswa seperti ini, secara tidak langsung tindakan tersebut mengajarkan mereka
bagaimana menyogok atau menyuap orang.
Adanya bingkisan atau
hadiah spesial untuk dosen yang telah ikut andil dalam penyelesaian skripsi ini
sangat memberatkan bagi mahasiswa, apalagi orang tua mereka. Kenapa? Penelitian
untuk skripsi pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit, belum lagi untuk
mencetak instrument yang akan dipakai, bahkan naskah skripsi pun harus dicetak
berulang kali karena selalu ada kesalahan di dalamnya. Coba bayangkan berapa
banyak uang yang harus kita keluarkan? Apakah bingkisan dapat menjamin nilai
kita? Belum Tentu! Nilai dari dosen tidak bisa dihargai dengan ada tidaknya
bingkisan, atau seberapa besar bingkisan yang diberikan oleh mahasiswanya. Tidak
ada bingkisan pun tidak apa-apa. Toh sudah menjadi kewajiban dosen dalam
membimbing mahasiswanya. Saya tidak pernah sedikit pun mendengar dosen yang
meminta mahasiswa untuk menghargai dedikasinya dengan bingkisan mahal, jadi apa
salahnya kita mencoba untuk tidak memberikan bingkisan, apalagi jika kita tidak
mampu untuk memberinya.
Sudah saatnya kita
merubah budaya ini dan sudah saatnya pulalah kita membuktikan betapa
objektifnya dosen kita. Mahasiswa sebagai Agent
of Change sewajarnya memberikan perubahan-perubahan yang lebih baik dan
lebih mensejahterakan banyak kalangan, terutama untuk mahasiswa sendiri.
Sekarang bukan lagi era “Yes bingkisan, yes nilai bagus” tapi sekarang adalah
era “No bingkisan, yes nilai bagus”. Jadi,
ayo teman-teman kita adakan sedikit perubahan pada Universitas kita tercinta
ini. Yah, lebih baik lagi jika dari setiap Prodi memberikan peringatan tegas
untuk melarang mahasiswa memberikan bingkisan dalam bentuk apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar