Minggu, 16 September 2012

"No Bingkisan, Yes Nilai Bagus" (By. Wazirotus Sakinah)


Ini kurang banyak ki. Untuk bingkisan loh ini!.” celoteh salah satu teman saya ketika kami membeli barang-barang untuk bingkisan seminar proposal. Padahal saya telah menjejalkan minuman dengan ukuran king size serta beberapa biscuit kaleng, dan masih ditambah beberapa jajanan lainnya. Ini masih belum nasi dan kue basah yang disajikan kepada para dosen ketika seminar. Itu masih belum seberapa, beberapa waktu lalu, teman saya lainnya yang akan ujian skripsi sibuk membungkus beberapa seprai baru yang pastinya cukup mahal, apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti saya. Ketika ditanya, jawabannya pun sama, “Untuk bingkisan skripsi!”
         Saya cukup heran dengan fenomena-fenomena di atas, mengapa untuk melakukan seminar proposal atau sidang skripsi saja harus membawa bingkisan? Jika sekadar nasi dan air mineral sih tidak masalah, karena dosen merupakan tamu pada acara kita, tapi bingkisan dengan isi yang tergolong mahal? Menurut saya ini berlebihan. Yah, Alhamdulillah sih, di prodi tempat saya belajar tidak ada budaya seperti ini. Hal itu sudah dilarang keras oleh prodi saya.
          Sebenarnya sejak kapan sejarah yang mewajibkan bingkisan diberikan kepada dosen setiap seminar dan ujian? Kenapa budaya ini terus berjalan di Universitas kita? Mungkin ini ada kaitannya juga dengan istilah yang pernah saya dengar dari beberapa kakak angkatan di FKIP ,”Yes bingkisan, yes nilai bagus” jadi dengan adanya bingkisan, pasti nilai kita akan menjadi bagus. Inilah yang menimbulkan ketakutan tersendiri bagi sebagian besar mahasiswa. Mereka takut tanpa memberikan bingkisan kepada dosen, maka nilai seminar atau ujian mereka akan menjadi jelek atau bahkan tidak lulus ujian dan harus mengulang kembali. Dengan pemikiran mahasiswa seperti ini, secara tidak langsung tindakan tersebut mengajarkan mereka bagaimana menyogok atau menyuap orang.
          Adanya bingkisan atau hadiah spesial untuk dosen yang telah ikut andil dalam penyelesaian skripsi ini sangat memberatkan bagi mahasiswa, apalagi orang tua mereka. Kenapa? Penelitian untuk skripsi pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit, belum lagi untuk mencetak instrument yang akan dipakai, bahkan naskah skripsi pun harus dicetak berulang kali karena selalu ada kesalahan di dalamnya. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus kita keluarkan? Apakah bingkisan dapat menjamin nilai kita? Belum Tentu! Nilai dari dosen tidak bisa dihargai dengan ada tidaknya bingkisan, atau seberapa besar bingkisan yang diberikan oleh mahasiswanya. Tidak ada bingkisan pun tidak apa-apa. Toh sudah menjadi kewajiban dosen dalam membimbing mahasiswanya. Saya tidak pernah sedikit pun mendengar dosen yang meminta mahasiswa untuk menghargai dedikasinya dengan bingkisan mahal, jadi apa salahnya kita mencoba untuk tidak memberikan bingkisan, apalagi jika kita tidak mampu untuk memberinya.
            Sudah saatnya kita merubah budaya ini dan sudah saatnya pulalah kita membuktikan betapa objektifnya dosen kita. Mahasiswa sebagai Agent of Change sewajarnya memberikan perubahan-perubahan yang lebih baik dan lebih mensejahterakan banyak kalangan, terutama untuk mahasiswa sendiri. Sekarang bukan lagi era “Yes bingkisan, yes nilai bagus” tapi sekarang adalah era “No bingkisan, yes nilai bagus”.  Jadi, ayo teman-teman kita adakan sedikit perubahan pada Universitas kita tercinta ini. Yah, lebih baik lagi jika dari setiap Prodi memberikan peringatan tegas untuk melarang mahasiswa memberikan bingkisan dalam bentuk apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar