Terhempas
Batu Cadas
Bel pulang sekolah terdengar
nyaring. Tak ada seorang siswa pun yang protes mendengar bel ini. Wajah letih
dan lelah yang terlukis pada setiap wajah berganti dengan sesungging senyuman.
Bel ini terdengar seperti lantunan lagu-lagu penyejuk jiwa. Kukemasi buku-buku
dan alat tulisku yang berserakan di atas meja. Hampir setengah hari aku berada
di sini, mendengarkan guru mengajar dan mengerjakan tugas sekolah. Aku
melangkah gontai keluar kelas. Aku malas pulang ke rumah dan bertemu Bapak.
Bapakku adalah sosok pria pemarah dan egois. Padahal aku ingin bel ini tak
sampai ke telingaku. Biarlah aku tuli untuk kenyataan pahit ini.
Angkutan kota berseliweran di jalan
raya depan sekolah. Aku termenung. Tak saatupun angkutan kota yang sengaja
kustop. Aku enggan pulang ke rumah. Bukan karena takut akan kemarahan Bapak,
namun aku sudah terlalu muak melihat dan mendengar Bapak menyalahkan Ibu dan
menghancurkan barang-barang di rumah.
Tin! Tin! Sebuah klakson angkutan kota
membuyarkan lamunanku. Aku terpekik kaget. Sebuah angkutan kota penuh penumpang
tanpa kenek berhenti di depanku. Mau tak mau aku harus pulang. Hari sudah
semakin sore. Walau bedug ashar belum terdengar, angkutan kota yang melewati
jalan raya depan sekolah makin berkurang. Mungkin inilah angkutan kota yang
terakhir. Oleh karena itu aku segera masuk ke dalam angkutan kota ini.
Angkutan kota ini terus melaju
kencang, membelah jalan raya di sepanjang jalan perumahan dan instansi
pemerintahan. Aku menutup mata, mencoba menghilangkan bayanganku tentang Bapak.
Laju angkutan kota yang kunaiki mulai berkurang. Tiba-tiba supir menghentikan
kendaraan ini dan turun dari balik kemudi. Roda belakang bocor. Aku ingin
mengulur waktu agar sampai di rumah lebih sore. Bedug ashar terdengar. Ah,ya!
Aku belum shalat dhuhur. Daritadi yang kupikirkan hanya Bapak sehingga aku
melupakan kewajibanku sebagai seorang muslimah.
Roda belakang selesai diganti. Aku
menampakkan wajah takutku lagi. Walaupun jarak dari rumah ke sekolah sekitar
tujuh belas kilometer, aku tak bisa tenang sedikitpun. Aku ingin jalan ini
makin kpanjang dan tak ada ujungnya. Dengan begitu, aku tak akan menatap wajah
Bapak yang penuh kemarahan. Menit demi menit berlalu. Kendaraan yang kunaiki
memasuki wilayah baru. Inilah tempat tinggalku.
“ Ada yang turun di kantor
pos?,”supir melirik dari kaca spion. Aku bungkam. Biasanya aku memang turun di
situ. Tapi aku ingin sampai di rumah lebih lama.
Delapan ratus meter kemudian barulah
aku berteriak,”Stop sini,Pak!”. Aku turun dan berjalan pelan dengan perut
keroncongan dan kerongkongan kering.
Aku sengaja mengambil jalan memutar
yang akan sampai di rumah lebih lama. Deg! Akhirnya sampai juga. Entah berapa
lama aku berjalan namun tiba-tiba aku sampai. Rumah sedehana dengan bilik bambu
dan lantai tanah yang terlihat di depanku sekarang adalah rumahku.
Aku berlari. Pikiranku was-was. Kuputar
perlahan gagang pintu rumahku. Aku terpejam beberapa saat. Seisi rumah
berantakan. Ibu tertunduk lemas di samping meja sementara Bapak melotot bengis.
Kaca bufet retak, asbak pecah, dan... kulihat pilaku hancur berkeping-keping.
Itu pialaku satu-satunya. Aku terpukau. Hatiku pedih. Benda itulah benda
berharga dalam hidupku. Benda itu jugalah yang mengingatkanku pada masa laluku
ketika aku masih senang menulis. Benda itulah benda termewah di rumahku, benda
itu juga yang memberiku semangat agar aku tetap menulis diantara tangis dan
kesedihan.
Aku menangis. Bapak menendang
kepingan-kepingan pialaku. Hatiku terluka. Pedih bagai disayat sembilu apalagi
begitu melihat Bapak melempari Ibu dengan barang-barang yang berserakan sambil
mencacimaki Ibu dengan kata-kata kasar yang menyakitkan hati. Selama ini,
Ibulah yang mencari nafkah untuk keluarga. Ibu mencari biaya sekolah untukku
dan akikku dengan menjadi buruh cuci sementara Bapak hanya malas-malasan dan
memarahi Ibu. Harusnya Bapak sebagai kepala keluarga yang menghidupi kami.
Adikku menghambur ke arah Ibu dan
menjadi sasaran lemparan pecahan asbak dari Bapak. Ibu menangis sambil memeluk
adikku dan kesabaranku pun sudah habis. Aku sudah tak tahan lagi melihat
pemandangan ini.
“Cukup, Bapak! Masih belum cukupkah
air mata yang kami teteskan karena Bapak?!,”aku berucap lantang. Mendengar
ucapanku Bapak mengumpat, mencaci dan akhirnya pergi disertai hinaan.
“Sudahlah, nak! Jangan membuat
Bapakmu marah. Semua ini biarlah Ibu yang menanggungnya,” Ibu menghapus air
matanya.
“Ibu, sampai kapan cobaan seperti
ini akan berakhir?,”aku menunduk.
“Sudah, kamu harus tabah menghadapi
semua ini,”sebisa apapun Ibu menghiburku, namun aku tahu kalau Ibuku juga
manusia. Ibuku juga punya batas kesabaran. Namun, aku kagum pada Ibuku yang
tetap memaafkan Bapak walau Bapak begitu kejam.
Aku segera mengambil air wudhu dan
kutunaikan shalat ashar. Dalam shalat aku berdoa, semoga Allah membuka pintu
illahi di hati Bapak. Biarpun kami terhempas pada batu keras dan bercadas, kami
yakin kalau batu keras dan bercadas itu akan hancur perlahan, berubah halus dan
kami akan melakukan hal yang sama di hati Bapak dengan jutaan tetes air
mata....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar