Realitas Negeri Kaya yang Kebingungan
TKI ada yang dipancung, disiksa, gaji tidak layak
bahkan tidak diberikan, ada pula yang merasa aman-aman saja namun ada hal yang
tergadaikan (rasa aman, harga diri bahkan hingga kehormatan). Sebuah ironi
negeri gemah ripah loh jinawi, TKI sebagai salah satu okupasi
penyumbang devisa yang cukup besar dan memiliki daya tarik tinggi di kalangan
masyarakat Indonesia kelas menengah ke bawah. Karena mau diakui atau tidak,
rata-rata masyarakat meminatinya karena lapangan pekerjaan dan upah kerja di
Indonesia masih rendah, sementara kebutuhan hidup semakin mahal.
Akhir-akhir ini Indonesia digoncangkan dengan
pemberitaan kasus penyiksaan TKI di negara-negara lain. Beritanya menjadi headline di seluruh media lokal dan
nasional, namun bukti kedaulatan Negara terhadap perlindungan warga negaranya
sangat lambat dan sulit dilakukan. Alih-alih berbicara kepedulian pemerintah
dan pemilik modal di negeri ini yang peduli pada nasib para TKI, warga Indonesia
juga masih memiliki minat yang cukup tinggi untuk meraup “emas” di negeri orang
sebagai TKI.
Inikah sebuah realitas atau problematika yang
harus dicari penyelesaiannya? Jangan-jangan masyarakat dan para elit sudah
merasa nyaman pada kondisi ini? Benar-benar masalah jika kita benturkan pula
dengan realitas negeri yang kaya raya bahan baku (Sumber Daya Alam) serta
tenaga (Sumber Daya Manusia, yang mungkin masih perlu disadarkan pada potensi
yang ada).
Dalam sudut pandang strukturalis, pemerintah/elit
sebagai pembuat kebijakan, pemberi akses, dan tentunya “komandan perang”
kedaulatan harus mengkaji permasalahan dan meregulasikan kebijakan yang pro-poor sebagai bentuk good government dengan memperhatikan
sistem ekonomi, pendidikan, politik, hingga permodalan.
Dalam sudut pandang humanistic, perlu adanya
penyadaran potensi masyarakat Indonesia yang di dukung oleh seluruh stake holder yang ada seperti pemerintah,
tokoh masyarakat, aktivis sosial, sekolah, dll.
Jika menyaksikan realitas yang ada tidak sekedar
TKI saja, pengangguran pun dimana-mana, pertanyaannya apakah tidak ada
alternatif lain sebagai sumber okupasi saat pemerintah atau pihak swasta belum
bisa menyediakan lapangan pekerjaan dan upah kerja secara optimal?
Jika melihat potensi Sumber Daya Alam (SDA)
Indonesia yang luar biasa melimpah, sebenarnya hanya butuh sedikit kreatifitas
untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual dan daya jual tinggi.
Sehingga potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang perlu dikembangkan, dari
sinilah kreatifitas menjadi kekuatan utama. Entrepreneurship
adalah salah satu alternatif okupasi, industri kreatif anak negeri.
Pelajar : Next Generations
Kenapa harus pelajar yang jadi sasaran? Bukankah
yang butuh uang adalah orang dewasa? Ada target jangka pendek sifatnya berubah
sesaat, ada target jangka panjang dengan gerakan sporadis dan berdampak hingga
dalam jangka panjang.
Pelajar sebagai sosok yang tak terlepas dari
pendidikan dan usia remaja, memiliki energi ekstra daripada kaum tua karena
dalam “golden age” perkembangan manusia serta tidak terlepas dari
dunia intelektualitas karena memang tuntutan dunianya. Pelajar menyimpan
beragam potensi dan energi luar biasa yang apabila tidak tersalurkan dengan
baik akan mengarah pada kenakalan remaja (juvenile delenguence). Oleh
sebab itu pelajar haruslah memiliki ruang khusus untuk mengenali dan
pengembangan potensi kreatifnya.
Selama ini pelajar selalu diidentikkan dengan
status manusia yang belum bisa mandiri sepenuhnya, serta masih tergantung
dengan orang-orang dewasa baik dalam memenuhi kebutuhannya maupun dalam
menentukan keputusan. Padahal di sisi lain, pelajar juga membutuhkan kebutuhan
yang luar biasa, baik itu yang bersifat aktualisasi maupun materi. Rata-rata
pelajar diluar tugas utamanya untuk belajar (bersekolah, red), mereka lebih
suka menghabiskan waktunya untuk memenuhi hasrat keingintahuan, ingin mencoba,
dan tampil beda melalui hal-hal yang kurang produktif (konsumtif). Walaupun
juga ada beberapa pelajar yang mengisi hari-harinya dengan mainstream produktifitas.
Pola pembelajaran mental kemandirian sejak dini
dirasa sangat perlu dibangun dalam mempersiapkan generasi tangguh masa depan.
Membangkitkan pola pikir kreatif & produktif diharapkan mampu menjadikan
pelajar – pelajar Indonesia lebih siap dan mandiri dalam menyambut masa
depannya, hal ini otomatis akan berdapak pada perekonomian bangsa yang kian
mandiri.
Apa yang Harus Dilakukan?
Pelajar harus mampu mengembangkan potensi
kreatifitas luar biasa yang dimiliki oleh tiap-tiap diri pelajar dengan beragam
keunikannya, tersistematisasi dalam sebuah gerakan jama’ah/komunitas. Sehingga
ke depannya diharapkan kreatifitas ini mampu menjadi suatu usaha produktif
serta mampu terdistribusi dengan baik. Penyadaran dan pengembangan potensi ini
diarahkan agar pelajar mampu menganalisis potensi diri (sebagai pelaku/subjek)
dan lingkungan sekitar (sebagai objek). Sadar dahulu, bahwa diri kita dan
sekitar kita sebenarnya tersimpan daya “sesuatu” yang luar biasa.
Jika sudah menyadari dan bermental optimistis,
barulah upaya pengembangan skill (keahlian) dalam mengolah potensi yang ada
sehingga mampu menghasilkan karya/produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Yang tak terlupakan apabila produk/karya sudah
dihasilkan bagaimana pelajar kita memiliki serta kemampuan menyusun management
industri kreatif, serta kemampuan distribusi dan marketing produk/karya. Karena
realitas yang terjadi di Indonesia, kreatifitas produk anak negeri terhambat
pada proses distribusi dan marketing, serta korban kebijakan ekonomi yang tak berpihak
pada usaha kecil sehingga produk anak negeri kalah saing.
Pendekatan humanistis pada pelajar mulai dari
penyadaran potensi hingga pengembangan skill walaupun sudah dilakukan pun tak
akan terjadi apa – apa, apalagi berharap efek komunitas yang dihasilkan apabila
tidak ada elit yang memberi ruang untuk bergerak (structural birokrat),
pendampingan pemerintah mulai dari permodalan hingga kebijakan pasar yang
diberlakukan menjadi penguat perkembangan industry kreatif anak bangsa.
Industri Kreatif : Pembangunan dari Mikro
untuk Indonesia
Industri kreatif melalui kerja kreatif ini
menjadi hal yang tidak sulit untuk diwujudkan apabila ada komitmen dari seluruh
stakeholder dalam lingkar isu ini. Misal seperti bagaimana membangun kesadaran
pada diri pelajar bahwa kreatifitas sangat dibutuhkan untuk kehidupan akan
datang selain ijazah pendidikan formal. Menjadi sebuah harapan meminimalisir
konsumerisme di kalangan pelajar melalui produktifitas dalam negeri.
Bermunculannya produk – produk luar biasa dari
anak negeri seperti mobil, laptop bahkan terbaru ini pesawat adalah sebuah
angin segar kreatifitas anak negeri yang memiliki nilai ekonomi jika memiliki
management dan mendapat ruang yang baik dari pemerintah. Secara otomatis
apabila iklim seperti ini berkembang di seluruh Indonesia, bukan lagi mission
impossible Indonesia siap bertarung dengan Negara maju yang mandiri, masyarakat
sejahtera, tidak lagi bergantung pada asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar