Senin, 17 September 2012

Wani Piro? (By : Asmaul Husnah)


Text Box: Sosial (Soshock : Sosial Shock)

Wani Piro?
            Panas, panas dan panas. Itulah penderitaan ekstra yang mereka rasakan saat harus berdiri, menunggu pelanggan membeli dagangan mereka. Walau terik matahari masih menyinari, walau kerongkongan mereka tercekik oleh rasa haus dan letih, namun tujuan utama mereka bukanlah untuk kehausan dan kelaparan macam itu. Masih banyak hal yang harus dibeli. BBM akan naik, harga barang ikut naik. Harga beras, sabun, minyak, bahkan biaya sekolah mungkin juga akan naik. Sementara itu, anak-anak mereka menunggu orangtua mereka datang dan menunggu akan adanya makanan. Betapa kecewanya mereka jika orangtua mereka tidak membawa apa-apa saat pulang dan hanya membawa tangan kosong dan sebuah batu. Batu? Batu darimana itu?
            “Batu ini hasil dari pertengkaran Bapak dengan Satpol PP. Lihat, masih penuh dengan darah! Bukan salah Bapak juga, nak! Semut saja akan marah jika diinjak, apalagi Bapak?  Katakan saja Bapak memang salah, tapi tak seharusnya mereka melakukan ini. Jika memang Bapak harus pergi dari tempat itu, mengapa pula mereka tidak sediakan tempat yang layak untuk kami? Bapak juga punya hidup, untuk biaya makan dan sekolah kalian, nak! Bukan salah Bapak, nak! Bukan salah Bapak!”
            Kawan, apakah kita harus menutup mata soal itu? Apakah kita harus diam saja saat rakyat yang harusnya pemerintah pelihara malah digusur bagai seonggok bangunan tua yang mengganggu pemandangan?. Saat itu, tak ada pengertian barang sedikitpun untuk menghargai mereka selayaknya manusia. Sangat ironis, kawan.. Mereka juga punya hak untuk hidup. Mengapa mereka tidak diberikan tempat dan fasilitas yang layak agar mereka tidak melanggar peraturan yang dibuat oleh pemerintah? Kenapa harus mereka yang dipersalahkan? Apakah benar jika para petinggi itu sudah menyediakan tempat untuk mereka?
            Sebenarnya jika kita lihat lagi, bukan hal yang etis jika kita berlaku seperti preman, yang selalu meminta dan merusak usaha orang lain tanpa izin. Bahkan preman saja masih punya etika untuk menghargai orang lain, sedangkan mereka apakah sempat membuka mata? Itulah gambaran di Indonesia yang sangat ironis saat tak ada yang merasa peduli. Semua mata seolah menyalahkan orang kecil yang tak tertib, yang tak mau patuhi aturan. Namun, pernahkah mereka bertindak dan berdiri di posisi orang-orang itu? Yang harus rela berpanas-panas, yang harus mau menghadapi Satpol PP yang dengan bangganya, dengan tongkat di tangan, menghancurkan semua yang ada layaknya punggawa bejad yang menghancurkan istana musuh. Lalu, pernahkah terpikir, bahwa sebenarnya  bukan mereka yang salah? Kemana hati nurani kita saat itu? Jika mereka tak diinjak, mereka juga tak akan menggigit. Saat mereka diberikan hak, mereka akan mematuhi kewajiban. Kebijakan yang selalu timpang sebelah selalu membuat mereka semakin mengelus dada. Bisakah jika negara ini diubah menjadi lebih baik? Dari, Oleh dan Dengan Rakyat adalah demokrasi kita. Mengapa rakyat harus menderita? Sudahkah terpikir untuk menjadi pribadi yang benar-benar jujur? Jika belum, mengapa harus ada deskriminasi terhadap rakyat? Jika memang keadilan harus ditegakkan, kenapa masih ada campur tangan dan kata-kata dusta? Jika memang semudah itu keadilan dapat dibeli, maka hanya satu kata yang akan menjadi polemik dalam masyarakat : WANI PIRO?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar