Panas, panas dan panas.
Itulah penderitaan ekstra yang mereka rasakan saat harus berdiri, menunggu
pelanggan membeli dagangan mereka. Walau terik matahari masih menyinari, walau
kerongkongan mereka tercekik oleh rasa haus dan letih, namun tujuan utama
mereka bukanlah untuk kehausan dan kelaparan macam itu. Masih banyak hal yang
harus dibeli. BBM akan naik, harga barang ikut naik. Harga beras, sabun,
minyak, bahkan biaya sekolah mungkin juga akan naik. Sementara itu, anak-anak
mereka menunggu orangtua mereka datang dan menunggu akan adanya makanan. Betapa
kecewanya mereka jika orangtua mereka tidak membawa apa-apa saat pulang dan
hanya membawa tangan kosong dan sebuah batu. Batu? Batu darimana itu?
“Batu ini hasil dari
pertengkaran Bapak dengan Satpol PP. Lihat, masih penuh dengan darah! Bukan
salah Bapak juga, nak! Semut saja akan marah jika diinjak, apalagi Bapak? Katakan saja Bapak memang salah, tapi tak
seharusnya mereka melakukan ini. Jika memang Bapak harus pergi dari tempat itu,
mengapa pula mereka tidak sediakan tempat yang layak untuk kami? Bapak juga
punya hidup, untuk biaya makan dan sekolah kalian, nak! Bukan salah Bapak, nak!
Bukan salah Bapak!”
Kawan, apakah kita harus
menutup mata soal itu? Apakah kita harus diam saja saat rakyat yang harusnya
pemerintah pelihara malah digusur bagai seonggok bangunan tua yang mengganggu
pemandangan?. Saat itu, tak ada pengertian barang sedikitpun untuk menghargai
mereka selayaknya manusia. Sangat ironis, kawan.. Mereka juga punya hak untuk
hidup. Mengapa mereka tidak diberikan tempat dan fasilitas yang layak agar
mereka tidak melanggar peraturan yang dibuat oleh pemerintah? Kenapa harus
mereka yang dipersalahkan? Apakah benar jika para petinggi itu sudah
menyediakan tempat untuk mereka?
Sebenarnya jika kita lihat
lagi, bukan hal yang etis jika kita berlaku seperti preman, yang selalu meminta
dan merusak usaha orang lain tanpa izin. Bahkan preman saja masih punya etika
untuk menghargai orang lain, sedangkan mereka apakah sempat membuka mata?
Itulah gambaran di Indonesia yang sangat ironis saat tak ada yang merasa
peduli. Semua mata seolah menyalahkan orang kecil yang tak tertib, yang tak mau
patuhi aturan. Namun, pernahkah mereka bertindak dan berdiri di posisi
orang-orang itu? Yang harus rela berpanas-panas, yang harus mau menghadapi
Satpol PP yang dengan bangganya, dengan tongkat di tangan, menghancurkan semua
yang ada layaknya punggawa bejad yang menghancurkan istana musuh. Lalu,
pernahkah terpikir, bahwa sebenarnya
bukan mereka yang salah? Kemana hati nurani kita saat itu? Jika mereka
tak diinjak, mereka juga tak akan menggigit. Saat mereka diberikan hak, mereka
akan mematuhi kewajiban. Kebijakan yang selalu timpang sebelah selalu membuat
mereka semakin mengelus dada. Bisakah jika negara ini diubah menjadi lebih
baik? Dari, Oleh dan Dengan Rakyat adalah demokrasi kita. Mengapa rakyat harus
menderita? Sudahkah terpikir untuk menjadi pribadi yang benar-benar jujur? Jika
belum, mengapa harus ada deskriminasi terhadap rakyat? Jika memang keadilan
harus ditegakkan, kenapa masih ada campur tangan dan kata-kata dusta? Jika
memang semudah itu keadilan dapat dibeli, maka hanya satu kata yang akan
menjadi polemik dalam masyarakat : WANI PIRO?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar