Senin, 17 September 2012

Kemanakah Ranu Klakah Tempo Dulu? (By : Asmaul Husnah)


Kemanakah Ranu Klakah Tempo Dulu?
            Mentari pagi menyinari danau kecil di desa Klakah Kabupaten Lumajang melalui lereng gunung Lamongan yang diam, bisu tegak disana sejak dulu. Gunung itu seolah menjadi saksi bisu bagaimana danau kecil itu memudar seiring waktu. Pemandangan yang ironis itu semakin buruk ketika danau kecil bernama Ranu Klakah itu bertambah usia. Mentari yang selalu bersinar dari lereng gunung Lamongan dan menyinari riak-riak kecil air danau itu menjadi penanda bahwa keindahan itu kelak akan semakin pudar. Sekali lagi, pemandangan ironi itu tampak ketika Ranu Klakah, dengan bangganya, dua belas tahun yang lalu menyajikan berbagai panorama dan wahana rekreasi yang dikunjungi pula oleh turis mancanegara. Lalu, kemanakah Ranu Klakah tempo dulu? Kemanakah keindahan yang telah mereka sediakan, dengan berbagai fasilitas taman bermain, perahu boat, penginapan, lapangan tennis dan bermacam-macam suguhan dari alam itu?
007048.jpg            Sekali lagi, mencoba kembali ke Ranu Klakah tempo dulu, yang sarat akan makna, makna akan keindahan, makna akan keagungan, lalu kemana sekarang makna itu? Akankah Ranu Klakah akan menjadi sebuah sejarah, sejarah yang hanya akan kita kenang akan keindahannya dulu sedangkan sekarang berubah menjadi genangan air penuh bahan kimia? Sangat ironis. Apalagi di dalamnya telah hidup berbagai mahluk yang mungkin juga akan terusik dengan reinkarnasi ranu Klakah yang semakin bobrok. Memang, suatu keindahan itu semakin lama dan suatu saat pasti akan pudar. Namun, selama kita bisa seharusnya kita mempertahankannya. Panorama itu telah menjadi saksi bagaimana Kabupaten Lumajang terkenal dengan wisatanya, telah menjadi kunjungan resmi bagi turis mancanegara yang singgah di Kabupaten Lumajang dan telah hidup berdampingan dengan gunung Lamongan yang setia menunggu kemusnahannya.
            Dulu dan sekarang, sekarang atau nanti mungkin danau kecil itu akan menghilang, berubah menjadi kolam renang warga sekitar, berubah menjadi selokan raksasa yang akan hilang, musnah tak berbekas. Semakin tua danau itu tak tampak semakin eksotis, kawan... bukan pula semakin penuh akan sejarah kebisuan dan keindahannya, layaknya orang yang penuh akan pengalaman ketika sudah tua, namun... ketuaan itu akan penuh dengan tangis penyesalan, mengapa kita harus melupakannya, menelantarkannya dan menghapusnya. Panorama yang dulu mereka janjikan, mereka percayakan pada kita dengan beribu mahluk yang hidup di dalamnya seolah kita sia-siakan layaknya tebu, kita hisap sari manisnya dan kita buang saat sari itu sudah hilang. Lalu, apa bedanya kita dengan penjahat?
            Gunung Lamongan masih tegak berdiri, dengan lereng-lerengnya yang mulai gundul, menemani ranu Klakah dengan setia. Mereka hidup berdampingan dan mungkin kelak akan menghilang bersama. Tak ada yang dapat kita ceritakan pada anak cucu kita tentang danau kecil yang indah itu, tak ada yang dapat kita kisahkan pada mereka bagaimana megah dan eksotisnya gunung Lamongan di balik danau kecil bernama ranu Klakah itu. Tangan kitalah yang telah mengubahnya, menjadi selokan raksasa yang mungkin suatu saat akan menjadi sebuah bangunan megah dan kokoh, bersaing dengan megah dan kokohnya gunung Lamongan. Tak tampak lagi cerita indah penuh kebanggaan tentang danau itu. Danau itu akan mati, akan menghilang.
            Saat mentari terbit itulah saatnya kita berpikir. Apakah tempat itu akan hilang? Kemanakah para pejabat daerah yang dulu, yang dengan bangganya mempromosikan ranu Klakah sebagai wisata kebanggaan Kabupaten Lumajang? Apakah mereka sudah tua? Keinginan mereka juga sudah sirna? Atau janji mereka hanya layaknya sebatang tebu, yang hanya tinggal ampasnya saja ketika sari gula tebu itu hilang? Ranu Klakah sekarang hanya pasrah. Menunggu dan menunggu. Waktu yang akan menjawab semuanya. Waktu akan membuatnya semakin eksotis atau semakin ironis. Pertanyaannya bukanlah kemanakah Ranu Klakah tempo dulu, melainkan mampukah kita mengembalikan Ranu Klakah seperti dulu...??
389077087_e843bd3839.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar