Kemanakah Ranu Klakah Tempo Dulu?
Mentari pagi menyinari danau kecil
di desa Klakah Kabupaten Lumajang melalui lereng gunung Lamongan yang diam,
bisu tegak disana sejak dulu. Gunung itu seolah menjadi saksi bisu bagaimana
danau kecil itu memudar seiring waktu. Pemandangan yang ironis itu semakin
buruk ketika danau kecil bernama Ranu Klakah itu bertambah usia. Mentari yang
selalu bersinar dari lereng gunung Lamongan dan menyinari riak-riak kecil air
danau itu menjadi penanda bahwa keindahan itu kelak akan semakin pudar. Sekali
lagi, pemandangan ironi itu tampak ketika Ranu Klakah, dengan bangganya, dua
belas tahun yang lalu menyajikan berbagai panorama dan wahana rekreasi yang
dikunjungi pula oleh turis mancanegara. Lalu, kemanakah Ranu Klakah tempo dulu?
Kemanakah keindahan yang telah mereka sediakan, dengan berbagai fasilitas taman
bermain, perahu boat, penginapan, lapangan tennis dan bermacam-macam suguhan
dari alam itu?
Sekali lagi, mencoba kembali ke Ranu
Klakah tempo dulu, yang sarat akan makna, makna akan keindahan, makna akan
keagungan, lalu kemana sekarang makna itu? Akankah Ranu Klakah akan menjadi
sebuah sejarah, sejarah yang hanya akan kita kenang akan keindahannya dulu
sedangkan sekarang berubah menjadi genangan air penuh bahan kimia? Sangat
ironis. Apalagi di dalamnya telah hidup berbagai mahluk yang mungkin juga akan
terusik dengan reinkarnasi ranu Klakah yang semakin bobrok. Memang, suatu
keindahan itu semakin lama dan suatu saat pasti akan pudar. Namun, selama kita
bisa seharusnya kita mempertahankannya. Panorama itu telah menjadi saksi
bagaimana Kabupaten Lumajang terkenal dengan wisatanya, telah menjadi kunjungan
resmi bagi turis mancanegara yang singgah di Kabupaten Lumajang dan telah hidup
berdampingan dengan gunung Lamongan yang setia menunggu kemusnahannya.
Dulu dan sekarang, sekarang atau
nanti mungkin danau kecil itu akan menghilang, berubah menjadi kolam renang
warga sekitar, berubah menjadi selokan raksasa yang akan hilang, musnah tak berbekas.
Semakin tua danau itu tak tampak semakin eksotis, kawan... bukan pula semakin
penuh akan sejarah kebisuan dan keindahannya, layaknya orang yang penuh akan
pengalaman ketika sudah tua, namun... ketuaan itu akan penuh dengan tangis
penyesalan, mengapa kita harus melupakannya, menelantarkannya dan menghapusnya.
Panorama yang dulu mereka janjikan, mereka percayakan pada kita dengan beribu
mahluk yang hidup di dalamnya seolah kita sia-siakan layaknya tebu, kita hisap
sari manisnya dan kita buang saat sari itu sudah hilang. Lalu, apa bedanya kita
dengan penjahat?
Gunung Lamongan masih tegak berdiri,
dengan lereng-lerengnya yang mulai gundul, menemani ranu Klakah dengan setia.
Mereka hidup berdampingan dan mungkin kelak akan menghilang bersama. Tak ada yang
dapat kita ceritakan pada anak cucu kita tentang danau kecil yang indah itu,
tak ada yang dapat kita kisahkan pada mereka bagaimana megah dan eksotisnya
gunung Lamongan di balik danau kecil bernama ranu Klakah itu. Tangan kitalah
yang telah mengubahnya, menjadi selokan raksasa yang mungkin suatu saat akan
menjadi sebuah bangunan megah dan kokoh, bersaing dengan megah dan kokohnya
gunung Lamongan. Tak tampak lagi cerita indah penuh kebanggaan tentang danau
itu. Danau itu akan mati, akan menghilang.
Saat mentari terbit itulah saatnya
kita berpikir. Apakah tempat itu akan hilang? Kemanakah para pejabat daerah
yang dulu, yang dengan bangganya mempromosikan ranu Klakah sebagai wisata
kebanggaan Kabupaten Lumajang? Apakah mereka sudah tua? Keinginan mereka juga
sudah sirna? Atau janji mereka hanya layaknya sebatang tebu, yang hanya tinggal
ampasnya saja ketika sari gula tebu itu hilang? Ranu Klakah sekarang hanya
pasrah. Menunggu dan menunggu. Waktu yang akan menjawab semuanya. Waktu akan
membuatnya semakin eksotis atau semakin ironis. Pertanyaannya bukanlah
kemanakah Ranu Klakah tempo dulu, melainkan mampukah kita mengembalikan Ranu
Klakah seperti dulu...??

Tidak ada komentar:
Posting Komentar